Manajemen
Bahan Kimia Berbahaya dan Beracun Sebagai Upaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Serta Perlindungan Lingkungan
Dan
Model
Pemilihan Industri Komponen Otomotif Yang Ramah Lingkungan Dan Penerapan
Pengelolaan Limbah B3 di PT. TOYOTA MOTOR MANUFACTURING INDONESIA
PT. Toyota Motor Manufacturing
Indonesia adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri pembuatan
komponen/perakitan kendaraan bermotor roda empat merk TOYOTA serta perlengkapan
mesin pengolah/pengerjaan logam. PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia
menghasilkan limbah yang bersifat berbahaya dan beracun dari kegiatan proses
produksi dan dapat berpotensi menjadi pencemar bagi lingkungan bila tidak
dikelola dengan baik. Limbah B3 yang dihasilkan oleh PT. Toyota Motor
Manufacturing Indonesia adalah sludge IPAL, kerak cat/sludge painting, phosphat
sludge, thinner bekas, oli bekas, aki bekas, majun bekas, lampu TL bekas,
kemasan bekas B3 (kaleng cat, jerigen, kaleng thinner, drum), abu insinerator,
dan limbah poliklinik.
Bahan berbahaya dan beracun sering
disingkat dengan B3 merupakan aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian
lebih, karena jika tidak ditangani dengan benar bisa menyebabkan pencemaran
lingkungan dan bisa menimbulkan korban jiwa bagi pekerja yang nantinya akan
menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan. Sehingga dalam penyimpanan,
pengelolaan dan penanganannya perlu memperhatikan faktor keamanan dan
keselamatan.
Beberapa dampak dari B3 :
- Kebakaran bisa terjadi jika terdapat segitiga api berupa bahan bakar ( bisa pelarut organik dan gas), udara, dan sumber panas dapat berupa api terbuka, logam panas, bara api atau loncata listrik maupun percikan api pada saat menggunakan mesin gerinda.
- Ledakan, dapat terjadi oleh reaksi yang amat cepat dari bahan peledak, atau gas yang mudah terbakar atau reaksi dari berbagai peroksida organikdan bisa juga terjadi karena adanya gas cair pada tekanan tinggi yang tidak terkendali.
- Keracunan merupakan kondisi dimana terdapat bahan kimia yang masuk kedalam tubuh yang mengakibatkan efek terhadap tubuh seperti pusing, mual, bahkan kematian.
- Iritasi merupakan kerusakan atau peradangan yang terjadi di permukaan tubuh seperti kulit, mata, dan saluran pernafasan oleh bahan kimia korosif atau iritan seperni NaCl.
Terdapat unsur – unsur pengelolaan
atau manajemen B3 diantaranya :
Perencanaan
Dilakukan untuk menghindari
pengadaan barang yang tidak sesuai dengan kegiatan yang akan dikerjakan dan
bisa menyebabkan penumpukkan stok barang sehingga menyebabkan ruangan menjadi
sempit yang mengganggu selama proses produksi berlangsung, dan bisa menyebabkan
kecelakaan kerja seperti tertimpa barang yang jatuh, memakai bahan kimia yang
sudah kedaluwarsa, dan sebagainya.Dilakukan dalam kurun waktu tertentu
misal 1 tahun mulai dari perencanaan pengadaan, penyimpanan/penggudangan, dan
penggunaannya.Perencanaan disini, juga harus
mengetahui berbagai jenis bahan – bahan kimia, dampaknya, cara pemakaian dan
penanggulangannya.
Pengorganisasian
Merupakan suatu langkah yang
dilakukan dengan menunjuk atau memberi wewnang dan tanggung jawab kepada
personil yang tepat dan baik sebagai pengelola, pemakai, maupun pengawas
keselamatan kerja.Dalam pengorganisasia, perlu adanya kordinasi
dari berbagai pihak dan harus ditetapkan mengenai penyimpanan B3 setiap saatnya
sehingga personil yang diberikan wewenang untuk menangani masalah B3 harus tahu
syarat penyimpanan jenis bahan B3 tersebut
Pelaksanaan
Dilakukan dengan memantau kegiatan
pemakaian B3 mulai dari keberadaannya, penggunaannya, apakah sudah sesuai
dengan prosedur dan instruksi yang telah ditetapkan atau belum. Dan jika
terjadi sesuati hal yang tidak diinginkan akan dapat ditelusuri sebab – sebab
maupun akibat dari suatu kecelakaan.Prosedur harus digunakan setiap
kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan B3 oleh semua personil, kemudian
prosedur harus mengacu pada informasi yang telah ada pada setiap bahan kimia.
Pengendalian
B3 merupakan unsur manajemen yang
sangat penting mencangkup perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan. Dapat
dilakukan dengan inspeksi dan audit lapangan maupun melihat dokumen dan record
data yang ada.
Pemanfaatan yang dilakukan oleh PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia antara lain :
Drum bekas bahan B3 dimanfaatkan sebagai tempat limbah B3.
Untuk drum – drum bekas dan kaleng cat yang sudah tidak terpakai dan kemasan bekas dikembalikan kepada Sub.Cont, tidak dibuang begitu saja.
Recycle thinner dengan cara mendidihkan thinner yang menghasilkan uap yang dapat digunakan kembali menjadi thinner.
Prinsip utama dalam menangani B3
tersebut adalah mendapat informasi sebanyak mungkin terlebih dahulu sebelum
menanganinya. Sangat tidak mungkin dapat mengenal cara penanganan semua jenis
bahan kimia, bukan saja tidak praktis tetapi masing –masing kimia memiliki
sifat yang berbeda – beda. Cara penanganan bahan kimia biasanya didapat dari
perusahaan yang memasok bahan kimia tersebut, sehingga jika kita akan membeli
suatu bahan kimia kita harus menanyakan secara detail mengenai sifat bahan
kimia tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar